Beranda / Lifestyle

Hari Kartini 21 April 2023, Intip Sejarah Peringatannya

life.terasjakarta.id - Jumat, 21 April 2023 | 07:00 WIB

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link
Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April, yang mana tanggal tersebut adalah hari lahir dari seorang Pahlawan Nasional Wanita Raden Ajeng Kartini. (Dok. Kemdikbud)

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April, yang mana tanggal tersebut adalah hari lahir dari seorang Pahlawan Nasional Wanita Raden Ajeng Kartini. (Dok. Kemdikbud)

Penulis : Rury Pramesti
Editor : Rury Pramesti

JAKARTA, TERASJAKARTA.ID - Setiap tanggal 21 April merupakan salah satu hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Peringatan Hari Kartini 21 April ini menjadi waktu untuk mengenang seluruh perjuangan Kartini untuk mencapai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, terkhusus di bidang pendidikan.

Selain itu, peringatan 21 April setiap tahunnya sebagai hari di mana untuk mengenang hari lahirnya Pahlawan Nasional Wanita, Raden Ajeng Kartini.

Raden Ajeng Kartini sendiri menjadi salah satu Pahlawan Nasional yang termasuk berjasa dalam memajukan hak dan kehidupan wanita di Indonesia.

Baca Juga : 10 Ucapan Selamat Hari Raya Nyepi 2023 dalam Bahasa Bali dan Indonesia

Sejarah Penetapan Hari Kartini 21 April

Mengutip dari laman resmi Kemdikbud, diketahui bahwa pada tanggal 2 Mei 1964 menjadi hari di mana Raden Ajeng Kartini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia melalui Keputusan dari Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964.

Saat itu, Presiden Soekarno juga menetapkan hari lahir Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 1879 sebagai Hari Kartini yang masih diperingati hingga sekarang.

Sosok Raden Ajeng Kartini

Melansir dari laman Kemdikbud, Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pad 21 April 1879. Kartini sendiri merupakan putri dari seorang bangsawan yang bernama Raden Mas Sosroningrat yang menikah dengan Mas Ajeng Ngasirah.

Baca Juga : Sejarah Hari Raya Nyepi: Tradisi Penuh Makna dan Kebijaksanaan

Kartini digambarkan sebagai sosok wanita yang sangat antusias dengan ilmu pengetahuan dan juga pendidikan. Diketahui kartini sangat gemar menulis dan membaca.

Raden Ajeng kartini juga telah mengembangkan ilmu pengetahuannya dengan mencoba belajar membaca dan menulis bersama teman perempuannya.

Saking tidak pernah patah semangat dan rasa keingintahuan yang begitu besar, membuat Kartini ingin terus membaca surat kabar, buku dan juga majalah Eropa yang di mana saat itu terlintas ide dalam pikirannya untuk memajukan wanita-wanita Indonesia dari keterbelakangan.

Baca Juga : Ogoh-ogoh Identik Hari Raya Nyepi, Apa Itu?

Raden Ajeng Kartini dan Pernikahannya

Ide untuk memajukan wanita-wanita Indonesia itu membuatnya sempat menuliskan beberapa surat untuk Mr. J. H Abendanon dan memohon kepadanya agar diberikan beasiswa supaya bisa melanjutkan pendidikan di Belanda.

Sudah mendapat kesempatan untuk belajar di negeri kincir angin, namun kesempatan itu menghilang setelah Kartini justru dinikahkan oleh kedua orangtuanya dengan laki-laki bernama Raden Adipati Joyodiningrat.

Setelah menikah, Kartini diboyong oleh sang suami ke daerah Rembang. Beruntungnya, di sana sang suami mendukung semua keinginan Kartini untuk memperjuangkan pendidikan dan martabat perempuan.

Baca Juga : Batavia Lama : Sejarah, Keunikan, dan Keindahan Kota Tua Jakarta

Dari pernikahan ini, Kartini melahirkan seorang anak bernama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904.

Namun, 4 hari selang kelahiran Soesalit Kartini dinyatakan meninggal di usia 25 tahun pada tanggal 17 September 1904 dan dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

Kartini Mendirikan Sekolah

Di tahun 1912, Yayasan dari Kartini mendirikan Sekolah Wanita yang diberi nama 'Sekolah Kartini' yang mana sekolah tersbeut disebar ke beberapa wilayah seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun dan Cirebon.

Baca Juga : Sejarah dan Arti Nuzulul Quran, Mengenal Pentingnya Peristiwa Turunnya Al-Quran

Sebelumnya, diketahui setelah Kartini wafat, Mr. J. H Abendanon mengumpulkan surat-surat dari Kartini untuk teman-temannya di Eropa, dan dijadikan buku olehnya dengan diberi judul 'DOOR DUISTERNIS TOT LICHT' yang artinya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Tak hanya itu, sebagai bentuk penghormatan atas jasa Kartini, pemerintah menetapkan jika setiap tanggal 21 April akan diperingati sebagai Hari Kartini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link